Oma mengeluh lututnya sakit, itu sih cerita biasa. Tapi, sore itu Doni (35 tahun) yang baru pulang main futsal mengeluh lututnya sakit dan bengkak. Sudah diurut oleh si Mbok sambil diberi minyak urut, nyerinya mendingan dan Doni pun bisa jalan lagi.

Dua minggu – satu bulan berlalu, lutut Doni yang dibungkus knee decker masih saja terasa sakit terutama saat sedang berjalan atau menekuk lutut. Ia juga merasa lutut sekarang tidak stabil. Apakah di usianya yang baru setengahnya Oma, ia harus menderita sakit lutut yang sama seperti Oma?

Lain Oma, Lain Doni
Oma dan Doni sama-sama menderita pengapuran (serpihan tulang rawan) yang istilah kerennya osteoartritis (OA). Hanya saja, OA yang diderita Oma merupakan OA primer alias karena proses penuaan sedangkan yang diderita Doni adalah cedera lutut yang terjadi sebagai dampak dari trauma yang tidak tertangani dengan baik yang kemudian hari jadi OA sekunder. Karenanya, obat dengkul berbahan glukosamin dan kondroitin yang diminum Oma untuk mengatasi masalah dengkul Doni tidak efektif.

Kesadaran masyarakat untuk berolahraga demi tubuh yang sehat dan bugar membuat mereka mengagendakan kegiatan ini dalam jadwal mingguan mereka. Begitu pula dengan Doni. Tapi, sayangnya banyak dari mereka salah memilih jenis olahraga dan mengejar waktu sehingga prosedur wajib sebelum dan sesudah olahraga terabaikan, terjadilah cedera lutut seperti yang dialami Doni.

Cedera lutut menurut dr. Muki Partono Sp.OT (spesialis orthopedic dan Traumatologi) sering terjadi pada pemain futsal amatir seperti Doni yang mengisi waktu senggang setelah bekerja. Perkiraan dr. Muki, cedera ini terjadi karena lapangan futsal yang belakangan ini mewabah di berbagai lokasi di Jakarta, sempit hingga membuat para pemain merasa mampu berlari ke seluruh lapangan untuk mengejar bola. Ketika mereka berlari ke sana kemari, tabrakan antar pemain kerap terjadi – lutut mereka berbenturan ataupun mereka jatuh dengan lutut yang menghantam permukaan lapangan futsal yang keras. Umumnya, lapangan futsal bukan lapangan rumput yang soft melainkan lapangan sintesis yang berlantaikan beton ataupun rumput sintetis yang menghasilkan hentakan keras pada lutut. Akibatnya, terjadilah risiko cedera seperti yang dialami Doni sangat besar.

Doni yang dengan semangat tinggi berolahraga demi hidup sehat juga lupa kalau usianya sudah kepala tiga. Tubuhnya, termasuk juga lutut mulai mengalami proses degeneratif sehingga risiko mengalami cedera cukup besar. Cedera lutut yang mereka alami biasanya berupa cedera kapsul, rawan sendi, bantalan lutut, dan ligamen.

Lutut terdiri atas tulang, kapsul, rawan sendi, bantalan lutut (meniskus), ligamen (jaringan penyambung tulang yang membentuk sendi yang bertugas menjaga kestabilan lutut), otot, dan saraf yang semuanya bekerja sama menghasilkan gerakan lutut sempurna.

Rice yang bukan nasi
Saat awal mengalami cedera lutut cobalah lakukan dahulu RICE. Rice yang dimaksud bukanlah nasi melainkan:

Rest alias istirahat. Istirahat mutlak dilakukan agar jaringan pada lutut yang cedera cepat pulih. Istirahatnya pun harus total, kaki sama sekali tidak digerakkan.

Ice (es). Untuk mengurangi nyeri dan bengkak, kompres lutut dengan es untuk mengurangi perdarahan yang terjadi di dalam dan juga pembengkakan,

Compression (dipres). Balut lutut yang cedera dengan perban elastik agar bengkaknya terlokalisir. Lakukan sampai bengkaknya hilang.

Elevation (diangkat). Kaki yang sakit diangkat dengan posisi lebih tinggi dari posisi jantung.

Bila prosedur ini sudah dilakukan selama lima hari dan kondisinya tak membaik, pertolongan seorang dokter ahli orthopedi diperlukan.

Langsung dipakai
Demi mengetahui kondisi cedera lutut secara pasti, menurut dr. Muki perlu dilakukan pemeriksaan dengan MRI (magnetic resonance imaging). Karena alat ini mampu menampilkan detil-detil jaringan sehingga bisa diketahui jenis dan lokasi kerusakan. Pemotretan konservatif dengan X-ray kurang bisa memperlihatkan detil-detil kerusakan.

Cara lain adalah dengan artroscope (artroskopi) yang berasal dari kata artho (sendi), dan scope (melihat). Alat yang dapat mengintip ke dalam sendi ini berupa sebuah tabung kecil yang berisi sistem optik dengan lensa pembesar dan sumber cahaya serat optik. Tabung ini masuk ke dalam lutut, setelah dokter melakukan anestesi lokal dan membuat insisi kecil 0,5 – 1 cm. Selanjutnya, kondisi sendi lutut bisa terlihat jelas melalui layar monitor.

Selain “mengintip”, alat canggih ini juga bisa mereparasi kerusakan lutut seperti mengangkat pecahan tulang rawan, memperbaiki meniskus, ataupun menyambung ligamen.

Setelah acara reparasi lutut selesai, tak perlu dilakukan acara jahit menjahit karena lukanya begitu kecil yang akan sembuh sendiri dalam waktu singkat. Tak heran, dengan terapi ini adakalanya pasien tak perlu rawat inap yang lama dan bahkan beberapa hari kemudian lututnya sudah bisa beraktivitas normal. Tapi, lutut belum boleh digunakan untuk aktivitas berat apalagi yang menggunakan lutut.

Dengan pengobatan seperti ini, cedera lutut Doni tak akan berdampak pada OA seperti Oma.

Sesuaikan kondisi
Cedera lutut memang salah satu risiko berolahraga. Tapi, menurut dr. Muki risiko ini bisa dihindari asalkan prosedur wajib olahraga ditaati. Yakni, melakukan Warming up alias pemanasan selama 5 – 10 menit perlu dilakukan sebelum berolahraga untuk memberi kesempatan pada otot, ligamen, dan tubuh secara keseluruhan beradaptasi terhadap regangan. Regangan yang tiba-tiba terjadi saat langsung berolahraga, inilah yang mengakibatkan cedera. Lalu, lanjutkan dengan streching yang bertujuan melenturkan otot-otot, terutama otot yang akan digunakan agar mampu berkontraksi. Terakhir, setelah selesai berolahraga lakukan pendinginan agar tubuh tidak tiba-tiba berhenti melakukan kegiatan ekstra.

Oahraga yang dilakukan hendaknya rutin dan terukur dengan frekuensi, intensitas, dan lama waktu berolahraga yang sama. Misalnya, jadwalkan berolahraga seminggu dua kali selama 1 jam atau 2 set. Jadwal ini harus benar-benar ditaati agar tubuh terbiasa dengan kebiasaan ini. Jangan mentang-mentang sedang punya waktu senggang, waktu berolahraganya diperpanjang. Atau muncul sebagai pemain dadakan pada turnamen olahraga dalam rangka ulang tahun perusahaan atau di lingkungan perumahan dalam rangka 17 Agustus. Tubuh yang kaget dengan beban yang begitu berat akan rentan mengalami cedera, termasuk cedera lutut.

Dr. Muki juga mengingatkan, kita sering lupa kalau usia di atas 30 tahun, sendi lututnya mulai memasuki masa homeostatis. Mulai mengalami kemunduran sendi, bantalan, dan ligamen – apalagi ketika memasuki usia kepala empat otot-otot sudah tidak lagi elastis sehingga gampang rusak. Dalam memilih jenis olahraga, mereka perlu menyesuaikannya dengan kondisi ini. Olahraga yang membebani lutut seperti futsal, bulu tangkis, basket, voli, sepak bola, juga berdansa bukanlah pilihan yang tepat.

Sebagai gantinya, mereka bisa bersepeda yang kini tengah mewabah. Tapi, lakukan bersepeda di tempat yang datar – jangan di pegunungan. Mau jalan cepat juga oke. Bila beraerobik pilihlah yang gerakannya tidak membebani lutut. Renang juga merupakan salah satu pilihan yang terbaik. )Dengan demikian, anjuran berolahraga demi tubuh yang bugar dan sehat tetap bisa dijalankan dan risiko cedera lutut bisa terhindar. (Cisca)

Artikel ini diterbitkan di majalah Intisari