Mengenal Osteoporosis

September 1, 2009 48 Comments

Osteoporosis, atau tulang keropos adalah suatu penyakit yang ditandai dengan massa tulang yang rendah dan kerusakan struktur dari jaringan tulang, menyebabkan keregasan tulang dan meningkatkan resiko terjadinya fraktur (patah tulang) terutama pada tulang paha, tulang belakang dan tulang lengan.

Insidennya dapat terjadi pada wanita dan laki-laki, dan merupakan suatu penyakit yang dapat dicegah dan diobati.

Apa itu tulang ?

osteoporosisTulang merupakan jaringan yang hidup dan tumbuh.  Tulang terdiri sebagian besar dari kolagen, suatu protein yang membentuk rangka tulang yang lunak dan kalsium fosfat merupakan mineral yang membuat keras dan kuat rangka tersebut.

Kombinasi dari kolagen dan kalsium membuat tulang lentur dan kuat,  yang akan membantu menahan tekanan. Lebih dari 99% dari kalsium tubuh terdapat pada  tulang dan gigi, sisanya 1 % terdapat pada darah.

Selama hidup anda, tulang yang tua disingkirkan (resorpsi) dan tulang yang baru dibentuk pada rangka (formasi). Selama masa anak-anak  dan remaja, tulang baru di bentuk lebih cepat daripada tulang lama (yang disingkirkan), sehingga tulang menjadi lebih besar, berat dan padat. Formasi tulang lebih cepat dibandingan resorpsi tulang sampai massa tulang puncak (kekuatan dan kepadatan tulang maksimum) yang dicapai sekitar usia 30. Setelah usia ini, resorpsi tulang akan melampaui formasi tulang.

Untuk wanita, kehilangan massa tulang paling cepat terjadi setelah menoupause dan hal itu berlanjut terus. Osteoporosis yang sebagian besar mempengaruhi wanita juga mempengaruhi laki-laki yang akan berkembang ketika resorpsi tulang terjadi terlalu cepat atau ketika formasi terjadi terlalu lambat. Osteoporosis kemungkinan akan terjadi jika anda tidak mencapai massa tulang puncak selama waktu pembentukan tulang.

FAKTOR-FAKTOR RESIKO YANG TIDAK DAPAT ANDA UBAH :

  • JENIS KELAMIN – kemungkinan anda terkena osteoporosis lebih besar bila wanita. Wanita memiliki jaringan tulang yang kurang dan kehilangan tulang lebih cepat dibandingkan pria oleh karena perubahan yang terjadi terkait menopause.
  • USIA – semakin tua usia anda, resiko anda terkena osteoporosis semakin besar. Tulang anda menjadi lebih tipis dan lemah seperti bertambahnya usia anda.
  • UKURAN TUBUH – wanita dengan tulang yang tipis dan kecil memiliki resiko yang lebih besar
  • RAS – wanita Asia dan Kaukasia memiliki resiko yang paling tinggi. Wanita Afro-Amerika dan Hispanik memiliki resiko yang lebih rendah akan tetapi resiko yang signifikan.
  • SEJARAH KELUARGA – resiko fraktur dapat terjadi karena bagian dari keturunan. Anda yang memiliki orang tua dengan sejarah terjadinya fraktur, kemungkinan juga akan terjadi penurunan massa tulang dan beresiko terjadi fraktur

FAKTOR-FAKTOR RESIKO YANG DAPAT ANDA UBAH :

HORMON SEX – Ketiadaan menstruasi yang abnormal pada periode menstruasi (amenorrhea), kadar estrogen yang rendah (menoupause) dan kadar testoteron pada laki-laki yang rendah dapat membawa kepada osteoporosis.

ANOREKSIA NERVOSA– Ditandai dengan rasa takut yang tidak rasional akan kelebihan berat badan, kelainan pola makan ini dapat meningkatkan resiko osteoporosis

ASUPAN KALSIUM DAN VITAMIN D – Pola makan yang rendah kalsium dan vitamin D akan membuat anda cenderung kehilangan massa tulang.

PENGGUNAAN OBAT-OBATAN – Penggunaan jangka panjang glukokortikoid dan beberapa anti konvulsan dapat menyebabkan terjadinya kehilangan kepadatan tulang dan fraktur

GAYA HIDUP – Gaya hidup yang tidak aktif atau istirahat berbaring yang lama akan cenderung untuk melemahkan tulang

MEROKOK – Rokok buruk untuk tulang, juga untuk jantung dan paru-paru

ASUPAN ALKOHOL – Konsumsi alkohol yang berlebihan akan meningkatkan resiko kehilangan tulang dan fraktur

PENCEGAHAN

Untuk mencapai massa tulang yang optimal dan pembentukan jaringan tulang yang terus menerus, terdapat beberapa faktor yang harus anda pertimbangkan :

KALSIUM :

Suplai kalsium yang tidak mencukupi akan memiliki andil terjadi osteoporosis. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa rendahnya asupan kalsium dikaitkan dengan rendahnya massa tulang, kehilangan tulang yang cepat, dan angka kejadian fraktur yang tinggi.

Sumber kalsium yang baik termasuk produk susu rendah lemak seperti : susu, yogurt, keju dan es krim; sayuran berdaun hijau tua seperti : brokoli, bayam,  sayuran lainnya; ikan sardin dan salmon dengan tulangnya; tahu; kacang almond; dan makanan yang diperkaya dengan kalsium, seperti jus jeruk, sereal dan roti.

REKOMENDASI ASUPAN KALSIUM (mg/hari)

NATIONAL ACADEMY OF SCIENCES (1997)

osteoporosis

VITAMIN D :

Vitamin D memainkan peranan penting pada penyerapan kalsium dan kesehatan tulang. Vitamin D secara alami dibentuk di kulit melalui paparan sinar matahari. Sementara banyak orang yang mampu mendapat cukup vitamin D secara alami, ada beberapa penelitian memperlihatkan produksi vitamin D menurun pada manula, pada orang yang lebih banyak berada di dalam rumah dan pada orang-orang  selama musim dingin.  Tergantung pada situasi , anda mungkin memerlukan supplemen untuk memastikan asupan vitamin D harian antara 400-800 UI (Unit Internasional).

LATIHAN :

Seperti halnya otot, tulang merupakan jaringan hidup yang memiliki respon terhadap latihan dengan menjadi lebih kuat. Latihan beban merupakan yang terbaik untuk tulang anda sebab akan memaksa anda melawan gravitasi. misal : jalan-jalan, mendaki, jogging, menaiki tangga, latihan beban, tenis dan dansa.

MEROKOK :

Merokok berakibat buruk pada tulang anda, juga jantung dan paru-paru. Wanita yang merokok memiliki kadar estrogen yang lebih rendah dibandingkan bukan perokok dan mereka sering mendapat menopause lebih dini. Merokok juga menyebabkan penyerapan kalsium dari makanan rendah.

ALKOHOL :

Konsumsi alkohol secara rutin 2 – 3 ons sehari dapat merusak tulang rangka, bahkan pada pria dan wanita muda. Mereka yang peminum berat lebih cenderung kehilangan tulang dan fraktur, sebab selain karena nutrisi yang buruk dan juga meningkatkan resiko terjatuh.

OBAT-OBATAN YANG MENYEBABKAN KEHILANGAN TULANG :

Penggunaan jangka panjang panjang:

Glukokortikoid (obat yang banyak diresepkan berbagai penyakit termasuk : arthritis, asthma, penyakit Crohn, lupus dan penyakit lain pada paru-paru, ginjal dan hati) dapat menyebabkan kehilangan kepadatan tulang dan fraktur.

Phenytoin dan barbiturat; obat anti kejang.

Gonadotropin Releasing Hormon (GnRH) yang digunakan untuk mengobati endometriosis.

Preparat alumunium untuk antasida; pengobatan kanker tertentu dan kelebihan hormon tiroid.

GEJALA-GEJALA

Osteoporosis sering disebut “silent disease” karena kehilangan tulang terjadi tanpa gejala. Orang mungkin tidak mengetahui bahwa mereka terkena osteoporosis sampai tulang mereka menjadi lemah sehingga bila mendadak adanya ketegangan pada tulang, tabrakan dan terjatuh akan menyebabkan faktur pada tulang seperti pada tulang paha atau kolaps tulang belakang. Kolaps tulang belakang biasanya dimulai dengan rasa sakit yang parah dibagian punggung, kehilangan tinggi atau kelainan (deformitas) tulang belakang seperti kiposis (postur tubuh bongkok yang parah)

DETEKSI

Berkenaan dengan pengukuran medis yang lengkap, dokter anda mungkin merekomendasikan bahwa massa tulang anda untuk diukur. Pengukuran dengan alat ukur BMD (Bone Mineral Density) merupakan cara terbaik untuk menentukan kesehatan tulang anda.

Pengukuran BMD dapat mengindentifikasi osteoporosis, menentukan resiko  terjadinya fraktur dan mengukur respon pengobatan osteoporosis yang dijalani.

Alat BMD digunakan sebagai :

  • Mendeteksi kepadatan tulang yang rendah sebelum terjadinya fraktur
  • Menegakkan diagnosa osteoporosis jika anda telah mengalami satu atau lebih fraktur
  • Memperkirakan kemungkinan fraktur di masa mendatang
  • Menentukan kehilangan angka tulang anda dan/ atau memonitor manfaat dari pengobatan jika pengukuran dilakukan pada dengan interval satu tahun atau lebih.

PENGOBATAN

Program pengobatan osteoporosis yang menyeluruh termasuk perhatian atas nutrisi yang seharusnya, latihan dan perihal keamanan untuk mencegah terjatuh yang dapat mengakibatkan fraktur. Sebagai tambahan, dokter anda mungkin meresepkan suatu pengobatan untuk mencegah atau menghentikan kehilangan tulang, meningkatkan massa tulang dan mengurangi resiko terjadinya fraktur.

NUTRISI

Makanan yang kita makan mengandung berbagai vitamin, mineral dan nutrien lain yang penting untuk membantu agar tubuh tetap sehat. Seluruh nutrien ini diperlukan secara seimbang, khususnya kalsium dan vitamin D diperlukan untuk memperkuat tulang, jantung anda, otot dan fungsi saraf secara alami.

LATIHAN

Latihan merupakan komponen penting untuk program pencegahan dan pengobatan osteoporosis. Latihan tidak hanya meningkatkan kesehatan tulang anda, tetapi juga meningkatkan kekuatan otot, koordinasi dan keseimbangan  sehingga secara keseluruhan menjadi lebih baik. Latihan itu baik untuk seseorang dengan osteoporosis, sebaiknya jangan mendadak melakukan latihan yang menyebabkan ketegangan pada tulang secara berlebihan, dokter anda dapat merekomendasikan latihan yang spesifik untuk memperkuat dan mendukung punggung anda.

TERAPI PENGOBATAN

Saat ini alendronate, raloxifen, risedronate dan ibandronate disetujui oleh FDA (AS) untuk mencegah dan mengobati osteoporosis pasca menopause. Teriparatide disetujui untuk mengobati osteoporosis pada wanita pasca menopause dan laki-laki yang beresiko tinggi terjadinya fraktur.  Terapi hormon/estrogen (TH/TE) disetujui untuk mencegah osteoporosis pasca menoupause dan kalsitonin disetujui untuk pengobatan. Sebagai tambahan, baik alendronate dan risedronate disetujui untuk digunakan oleh laki-laki dan wanita pada osteoporosis yang disebabkan glukokortikoid.

PENCEGAHAN TERJATUH

 

Pencegahan terjatuh merupakan perhatian khusus ditujukan untuk laki-laki dan wanita dengan osteoporosis. Terjatuh dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur pada tulang paha, tulang lengan, tulang belakang atau bagian lain dari rangka. Selain faktor-faktor lingkungan di bawah ini, terjatuh dapat juga disebabkan oleh gangguan pengelihatan dan atau keseimbangan, penyakit kronis yang mempengaruhi mental atau fungsi fisik dan pengobatan tertentu, seperti obat yang menyebabkan mengantuk dan obat anti depresi. Hal ini penting agar anda yang mengalami osteoporosis dapat lebih perduli pada perubahan fisik yang mempengaruhi keseimbangan dan gaya berjalan serta mau mendiskusikan perubahan tersebut dengan penyedia jasa kesehatan. Berikut ini beberapa tips untuk membantu mengurangi faktor lingkungan sekitar yang akan menyebabkan terjatuh.

DI LUAR RUANGAN :

  • Gunakan tongkat atau alat bantu berjalan untuk menambah keseimbangan
  • Gunakan sol sepatu dari karet untuk lebih melekat
  • Berjalan di atas rumput bila jalan yang akan dilalui licin
  • Hati-hati dengan lantai yang mengkilat, akan menjadi licin dan berbahaya jika basah
  • Gunakan alas plastik atau karpet bila memungkinkan

DI DALAM RUANGAN :

  • Menjaga ruangan bebas dari sandungan, khususnya di atas lantai
  • Menjaga permukaan lantai tetap halus tetapi tidak licin
  • Gunakan alat bantu, sepatu tumit rendah bahkan ketika di rumah
  • Hindari berjalan hanya menggunakan kaos kaki saja, stoking atau bahan yang licin
  • Pastikan bagian belakang karpet atau permadani anti licin atau melekat pada lantai
  • Pastikan ruangan tangga baik penerangannya dan tangga memiliki pengangan tangan dikedua belah sisinya.
  • Pasang untuk pegangan tangan pada dinding kamar mandi dekat bak mandi, shower dan toilet
  • Gunakan keset karet pada tempat shower atau bak mandi
  • Simpan lampu senter dengan baterai yang masih baik kondisinya di samping tempat tidur anda
  • Jika menggunakan  tangga portable untuk menggapai ketinggian yang sulit dijangkau, gunakan tangga portable yang kokoh yang memiliki pengangan tangan dan anak tangga yang lebar
  • Tambahkan pegangan di langit-langit pada ruangan yang diterangi oleh lampu
  • Pertimbangkan untuk membeli telepon tanpa kabel sehingga anda tidak harus tergesa-gesa untuk menjawab telepon ketika berbunyi, atau anda juga dapat memanggil bantuan jika terjatuh.

( Referensi : National Institutes of Health, Osteoporosis and Related Bone Diseases ~ ,National Resource Center, US Departement of Health and Human Services)

Tulisan ini bagian dari  “PEDULI OSTEOPOROSIS”

——– OSTEOPOROSIS…, YES WE CARE ——-

Osteoporosis Fraktur Vertebra Sebagai Salah satu Faktor Resiko Nyeri Pinggang

June 26, 2009 26 Comments

osteoporosisSeiring dengan kemajuan dibidang kesehatan, serta kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, berakibat semakin tinggi angka harapan hidup manusia indonesia , berdasarkan laporan BPS angka harapan hidup(AHH) manusia indonesia meningkat dari 60 tahun pada tahun 1995, menjadi 68 tahun pada tahun 2005,jumlah manula indonesia menduduki peringkat 4 dunia (19,7 juta).

Osteoporosis sebagai penyakit pada tulang yang ditandai dengan kerapuhan tulang menyebabkan masalah kesehatan yang besar, terutama pada wanita post menopause. Sekitar 40% wanita usia 50-75 tahun akan mengalami fraktur akibat osteoporosis, 35 % nya berhubungan dengan tulang belakang , dengan komplikasi yang paling sering adalah patah tulang vertebra.

Patah tulang vertebra menyebabkan penurunan kualitas hidup pada wanita, karena tinggi badan berkurang,deformitas tulang belakang, nyeri akut dan kronik, mobilisasi terganggu, ketidakmampuan aktifitas tulang belakang.Patah tulang vertebra yang baru berhubungan dengan peningkatan nyeri pinggang secara mendadak, terjadi deformitas tulang belakang akibat perubahan bentuk pergerakan sendi dan otot sering menyebabkan nyeri kronik.kemudian menyebabkan keterbatasan fungsi, depresi dan penurunan aktifitas sosial.

Osteoporosis
Definisi :

  • Old definition : penurunan massa tulang tanpa terjadi penurunan kwalitas tulang (Albright F. Ann Intern Med 1947;27:81)
  • Modern definition : Penyakit tulang dengan ciri penurunan massa tulang dan kerusakan mikroarsitekturnya sehingga menyebabkan tulang mudah patah.(Consensus Development Conference(Am J Med.1991;90:107-110.)
  • Newest definition : Osteoporosis adalah penyakit tulang dimana terjadi penurunan kekuatan tulang sedemikian hingga meningkatkan resiko patah tulang. Kekuatan tulang terdiri dari densitas tulang (kwantitatif) dan kwalitas tulang (NIH Consensus Development Panel . JAMA 2001;285:785-95)

Komposisi tulang terdiri dari matriks tulang 90% kolagen Tipe 1, 10% protein, Mineral tulang (hydroxyapatite, kalsium dan posfat) dansel-sel tulang (osteoklas,oseoblas,osteocyt.lining sel).

Tulang tumbuh sebagai akibat dari modeling :perubahan bentuk dan ukuran tulang selama masa pertumbuhan (anak-anak). Tulang dewasa sehat setiap kali diperbaharui melalui proses remodelling yakni penggantian tulang lama dengan tulang baru.

Siklus remodeling ialah aktifasi, resorpsi dan formasi. Proses ini dikerjakan oleh sel osteoklas (berasal dari sumsum tulang) yang menghancurkan tulang tua (resorpsi) sedangkan osteoblas (berasal dari sel mesenchym) menghasilkan bone matriks baru yang kemudian mengalami mineralisasi (formasi). Kehilangan masa tulang terjadi apabila resorpsi lebih besar dari formasi.

Puncak massa tulang adalah densitas tulang yang maksimal sepanjang hidup kita, hal ini tercapai bila masa pertumbuhan tulang berhenti/stabil baik dalam bentuk ukuran maupun jumlah mineral yang dikandungnya (konsolidasi). Puncak massa tulang dicapai tidak bersamaan : Trokhanter 14,2 + 2 thn, leher femur 18,5 +1.5 thn, tulang belakang 23 +1.4 th ( Li Y-C, et all,Bone.2003;32:546-555.)

Faktor-faktor yang menentukan puncak massa tulang adalah herediter (70-80%), sex dan ras, gaya hidup (20-30%).

Densitas tulang meningkat luar biasa selama masa pubertas, puncaknya dicapai pada usia di atas 10 hingga permulaan 20 tahun, kemudian mendatar , setelah usia 30 th terjadi kehilangan massa tulang dengan kecepatan 0.5%-1% pertahun, kemudian masuk masa menopause turun 1%-2% pertahun berlangsung hingga 5-10 tahun.

Densitas tulang terus menurun karena usia hingga mencapai level seperti sebelum masa pubertas. Umumnya massa tulang pria lebih tinggi daripada wanita dan ras hitam lebih tinggi dari kulit putih

Rangka tubuh kita terdiri dari 2 regio : sentral (spine, iga, panggul, bahu, hip), peripher ( lengan dan tungkai).tulang kortikal membungkus seluruh permukaan tulang dan bagian tengah tulang panjang, sedangkan tulang kanselaus ada di bagian dalam terutama pada tulang sentral .

80% rangka manusia terdiri dari tulang kortikal namun luasnya hanya 20 %. Sekitar 3 % tulang kortikal diperbaharui tiap tahunnya.Sisanya 20% terdiri tulang kanselaus namum memiliki luas 80%, dan terjadi perbaharuan 25% setiap tahun. Berkurangnya tulang kanselaus(Cancellous bone loss) cepat terjadi pada masa menopause, mengakibatkan resiko patah tulang pergelangan tangan, kemudian proses ini berlanjut mengakibatkan resiko patah tulang vertebra.

Pengurangan tulang kortikal berjalan lebih lambat, Meningkatnya resiko patah tulang panggul sebagai akibat pengurangan kedua jenis tulang . Osteoporosis dapat terjadi akibat puncak massa tulang yang rendah dan kehilangan tulang atau keduanya Wanita memiliki puncak massa tulang lebih rendah dari pria, ras kulit putih lebih rendah puncak massa tulangnya dibandingkan kulit hitam.

kehilangan massa tulang terjadi pada usia lanjut karena resorpsi lebih besar dari formasi, jika terjadi pengurangan tulang(bone loss) terjadi pula penurunan kwantitas dan kwalitas tulang. Tidak ada gejala klinis yang timbul akibat rendahnya densitas dan bone loss. Osteoporosis dapat ditegakkan berdasarkan pada adanya riwayat trauma minimal atau fragility fracture( fraktur akibat jatuh pada sikap berdiri atau keadaan dimana dalam keadaan normal tidak akan terjadi

Penyebab osteoporosis

  • Primer, disebabkan karena defisiensi estrogen (tipe1), atau usia lanjut(tipe2)
  • Sekunder, karena berbagai penyakit, kondisi atau konsumsi obat2an tertentu
  • idiopathic (tidak diketahui)

Epidemiologi
Diperkirakan lebih 200 juta orang diseluruh dunia terkena osteoporosis , sepertiganya terjadi pada usia 60-70 th, 2/3nya terjadi pada usia lebih 80 th. Diperkirakan 30% dari wanita di atas usia 50 th mendapat 1 atau lebih patah tulang vertabra.

Diperkirakan 1 dari 5 pria di atas 50 th mendapat patah tulang akibat osteoporosis dalam hidupnya. Angka kematian 5 tahun pertama meningkat sekitar 20 % pada patah tulang nertebra maupun panggul.

Di Amerika pada tahun 1995 pata tulang aibat osteoporosis menduduki peringkat 1 dibanding penyakit lain, jumlah 1,5 juta pertahun dengan patah tulang vertebra terbanyak (750 ribu),hip(250 ribu), wrist(250 ribu), fraktur lain ( 250 ribu),dengan anggaran meningkat sebesar 13,8 miliar dollarpertahun(kebanyakan biaya untuk patah tulang hip sebesar 8,7 miliar dollar.

Bahkan diperkirakan insiden patah tulang hip meningkat bermakna 240% pada wanita dan 320% pada pria. Perkiraan pada tahun 2050 menjadi 6,3 juta terbanyak di asia.

Gejala Klinis Osteoporosis
Osteoporosis dapat terjadi tanpa gejala (silent disease) , kita tidak mengetahui sampai terjadinya patah tulang.Patah tulang yang sering adalah vertebra, hip, wrist, dan tulang lain.

Patah tulang vertebra bisa bentuk wedge, biconcave atau crush. Keluhan bisa nyeri pinggang tiba-tiba atau nyeri pinggang kronik. Kebanyakan terjadi secara spontan atau kegiatan sehari –hari(mengangkat benda ,mendorong, menarik,dll).

Nyeri pinggang adalah keluhan yang paling banyak datang ke dokter dan kadang dirujuk ke rumah sakit untuk di rawat.Umumnya nyeri pinggang datang pada serangan pertama , 10% pasien mengeluh nyeri pinggang lebih 6 minggu, 5% mengeluh nyeri pinggang lebih dari 3 bulan.Hubungan antara osteoporosis fraktur dan nyeri pinggang masih dalam perdebatan.

Tidak ada studi longitudinal pada radiologi yang menerangkan hubungan ini. Symmons DPM dan kawan-kawan melaporkan studi longitudinal pada wanita usia 45-64 tahun yang dibagi dalam 2 grup, grup 1 adalah yang mengeluh nyeri pinggang , grup 2 tidak ada keluhan nyeri pinggang . Didapatkan hasil pada awal degeneratif disc paling banyak pada grup yang nyeri pinggang, sedangkan osteoporosis patah vertebra sama pada kedua grup. 9 tahun kemudian kedua grup menunjukkan peningkatan prevalensi terjadi degeneratif disc dan osteoporosis fraktur vertebra.

Kesimpulan bahwa patah tulang vertebra akibat osteoporosis bukan merupakan penyebab utama terjadinya nyeri pinggang. Gejala lain adalah tinggi badan berkurang, kyphosis, perut membuncit, fungsi paru menurun,kwalitas hidup menurun,kehilangan percaya diri, ketergantungan obat anti nyeri, depresi, tidak dapat hidup mandiri dan angka kematian meningkat.

Hanya 25%-30% patah tulang belakang di diagnosa secara radiologis. Pada studi osteoporis yang luas, sekitar 4% diketahui memiliki fraktur secara klinis dalam 2 tahun, dan 4% radiologis fraktur tapi tidak ada gejala.

Prevalensi patah tulang vertebra secara radiologis
(O’Neil TW, etal. J Bone Miner Res.1996;11:1010-1018) :

  • Pada usia 50-60 th 5%-10% lebih banyak pria daripada wanita.Hal ini disebabkan karena akumulasi trauma lebih sering pada pria.
  • Sesudah usia 65 th,20%-25% lebih sering pada wanita dari pria.
  • Insiden radiologis fraktur vertebra meningkat, usia mulai 50 tahun 2-5 per 1000 pasien pertahun, pada usia 50-54 tahun hingga 15-25 pe 1000 pada usia 75-79 tahun.

Klasifikasi Osteoporosis Postmenopausal (WHO 1994)
Assesment resiko fraktur dan screening (WHO Technical report series no 843;WHO, Geneva and Kanis JA et al. J Bone Miner Res. 1994:1137-1141.)

  • T-score membandingkan BMD seseorang dengan nilai rata-rata dewasa muda dan dinyatakan dalam standard deviasi
  • Normal, T-score lebih 1.0
  • Low bone mass (osteopenia(low bone density), antara -1.0 sampai -2,5
  • Osteoporosis, lebih kecil -2,5

Diagnosis Fraktur Vertebra
Ditegakkan dengan pemeriksaan xray foto lateral view, lalu di ukur tinggi corpus vertebra bagian depan dan belakang dan dibandingkan rationya, dikatakan fraktur bila terjadi pengurangan tinggi lebih sama dengan 20 %, atau lebih atau sama dengan 4 mm atau rasio lebih kecil sama dengan 0.8.

Kadang sebagian fraktur vertebra sulit tervisualisasi dengan foto xray, karena anatomi tulang yang komplek seperti pada stress fraktur tulang sakral, depresi bagian tengah endplate. Untuk itu dibutuhkan pemeriksaan lain (bone scanning, MRI). Tidak ada klassifikasi khusus untuk fraktur vertebra akibat osteoporosis Ada 3 jenis fraktur vertebra ; kompressi, biconcave, crush.

Pasien dengan patah tulang vertebra pertama kali beresiko 6,1 kali terjadi patah kembali. Pasien dengan patah tulang vertebra lebih dari satu level resiko terjadi patah kembali selama 1 tahun 24,1 % -44%. Pada laporan C Roux dkk, (C Roux et al.Ann Rheum Dis 2007;66:81-85) dilakukan pemeriksaan pada wanita post menopause yang didiagnosis osteoporosis (klasifikasi WHO) dengan keluhan back pain oleh rheumatologis di dapat hasil 410 pasien yang diperiksa, 215(52,4 %) didiagnosis minimal satu fraktur vertebra. 38,1% patah 1 vertebra, 27% patah 2 vertebra dan 14% patah 3 vertebra.

Lokasi patahnya yang satu vertebra paling sering L1 dan L2 sebanyak 18(22%) dan 12 pasien (14%) pada level Th12. Dibandingkan dengan kelompok yang tidak fraktur, kelompok yang fraktur vertebra didapatkan 3.1 tahun lebih tua, 1,9 cm lebih pendek dengan rata-rata berkurang tinggi badan 6,1 cm lebih besar dari pasien tanpa fraktur 3,8 cm.

Hasil lain didapat pada fraktur vertebra nyeri pinggang lebih sering dengan durasi lebih pendek lebih sering terjadi tiba-tiba dan nyeri menetap pada malam hari dan nyeri lebih hebat bila melakukan fleksi pada tulang belakang.Francis RM dkk melaporkan dari 1042 pasien dengan nyeri pinggang tidak respon dengan pengobatan konservatif dilakukan pemeriksaan MRI didapat 82 patah tulang vertebra osteoporosisterdiri 51 kasus baru dan 31 kasus lama .

Penatalaksanaan Fraktur Vertebra Osteoporosis
Management nyeri dengan memberikan obat-obatan (anagetik parasetamol, NSAID,COX-2 non-opioid,amitriptilin), terapi fisik, exercise, spinal orthosis, edukasi,mengurangi stress, meningkatkan kemampuan untuk ADL.selain itu tetap diberikan obat2an untuk mengatasi osteoporosisnya yaitu asupan cukup kalsium dan vit D3, serta pemberian HRT, SERM, bifosfonat , calcitonin,teriparatide.

Pada penelitian Liritis dkk melaporkan bahwa calcitonin 100-200 IU secara signifikan mengurangi nyeri memperbaiki mobilisasi dini pada pasien yang dirawat dengan fraktur vertebra (crush). Pengurangan nyeri berefek pada minggu pertama sampai 4 minggu kemudian. Bisphosphonate (Ibandronate) telah digunakan utuk mengobati nyeri tulang disertai patah tulang vertebra akut.

Ibandronate menurunkan resiko terjadinya patah tulang vertebra 62%, . Penggunaan ibandronate satu kali sebulan lebih efektif menurunkan resiko patah tulang pada tulang vertebra dibandingkan dengan penggunaan satu minggu sekali, tapi relatif sama pada kasus patah lainnya.Metode lain yaitu dengan cara vertebroplasty atau kyphoplasty, Tehnik ini adalah memasukkan semen (PMMA), dengan cara disuntikkan ke vertebra yang patah karena osteoporosis atau bisa juga karena tumor.

Kyphoplasty prosedurnya hampir sama , bedanya saat trokar disuntikkan ke tulang vertebra berisi balon kemudian ballonnya di besarkan untuk membuat space dalam tulang vertebra, kemudian diisi semen dengan tekanan rendah.

Kedua prosedur ini dilakukan secara lokal atau Anestesi umum. Selama prosedur ini berlangsung semua dibantu dengan C-Arm.Keuntungan kedua prosedur di atas untuk mengurangi nyeri secara cepat, sehingga memperbaiki mobilitas pasien, pasien dapat berdiri dan berjalan 24 jam pertama.

Kontra indikasi dilakukan pada pasien dengan gangguan pembekuan darah atau infeksi.Komplikasinya perdarahan pada tempat injeksi, patah pedikel,cedera pada dura, patah jarum. Komplikasi akibat injeksi semen adalah leakage lokal, emboli paru, sement keluar tulang. Semen leakage lebih sedikit pada kyphoplasty banding vertebroplasty karena tekanan semen rendah.

Daftar Pustaka

  • Tesar Rogene et all. ISCD Bone Denssitometry Course. The International Society for Bone Densitometry.2008.
  • Jensen AL,Harder Ingegerd.The Osteoporotic Pain experience;Osteoporos Int(2004) 15: 204-208.
  • Francis et all.Back Pain in Osteoporotic vertebral fractures;Osteoporos Int(2008) 19:895-903.
  • Symmons DP et all. A longitudinal study of back pain and radiological changes in the lumbar spines of middle aged women.II.Radiographic findings; Ann Rheum Dis (1991) 50 :162-166.
  • Roux C et all. A Clinical tool to determine the necessity of spine radiography in postmenopausal women with osteoporosis presenting with back pain: Ann Rheum Dis (2007) 66: 81-85.
  • Ambrose TL et all.The influence of Back Pain on Balance and Functional Mobility in 65 to 75-years-old women with osteoporosis; Osteoporos Int(2002) 13:868-873.
  • Haczynski Josef, Jakimiuk Artur. Vertebral fractures: ahidden problem of osteoporosis
  • Old JR, Calvert M. Vertebral compression Fractures in eldery:Dowload from the American Family Physician Web Site at www.aafp.org/afp. Copyright 2004.

OSTEOARTRITIS

May 26, 2009 642 Comments

lututOSTEOARTHRITIS Adalah salah satu jenis dari keluarga besar penyakit arthritis yang paling sering terjadi. Sering disebut juga degeneratif osteoarthritis atau hipertropic OA. OA merupakan radang sendi yang bersifat kronis dan progresif disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa integrasi (pecah) dan perlunakan progresif permukaan sendi dengan pertumbuhan tulang rawan sendi ( osteofit) di tepi tulang.

Literatur menunjukkan 1 dari 6 populasi menderita penyakit OA ini. WHO melaporkan 40 persen penduduk dunia yang lansia akan menderita OA lutut, dari jumlah tersebut, 80 persen mengalami keterbatasan gerak sendi

Patofisiologi Kartilago hyaline (jaringan rawan sendi)

Adalah jaringan elastis yang 95 persen terdiri dari air dan matrik ekstra selular, 5 persen sel kondrosit. Fungsinya sebagai penyangga atau shock breaker, juga sebagai pelumas, sehingga tidak menimbulkan nyeri pada saat pergerakan sendi.

Apabila kerusakan jaringan rawan sendi lebih cepat dari kemampuannya untuk memperbaiki diri, maka terjadi penipisan dan kehilangan pelumas sehingga kedua tulang akan bersentuhan. Inilah yang menyebabkan rasa nyeri pada sendi lutut.

Setelah terjadi kerusakan tulang rawan, sendi dan tulang ikut berubah. Pada permukaan sendi yang sudah aus terjadilah pengapuran. Yaitu tumbuhnya tulang baru yang merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menjadikan sendi kembali stabil, tapi hal ini justru membuat sendi kaku.

Sendi yang sering menjadi sasaran penyakit ini adalah sendi yang sering digunakan sebagai penopang tubuh seperti lutut, tulang belakang, panggul, dan juga pada sendi tangan/kaki. Jika tidak diobati sakit akan bertambah dan tidak bisa berjalan. Selain itu, tulang bisa mengalami perubahan bentuk atau deformity bersifat permanen. Bengkok pada kaki bisa ke dalam maupun keluar. Dampak kelainan ini muncul perlahan 10 tahun kemudian untuk itu perlu waspada.

JENIS-JENIS OA

1. Primer

Penyebab tak diketahui, akibat proses penuaan alami. Dialami setelah usia 45 tahun, tidak diketahui penyebab secara pasti, menyerang perlahan tapi pasti, dan dapat mengenai banyak sendi. Biasanya mengenai sendi lutut dan panggul, bisa juga sendi lain seperti punggung dan jari-jari.

2. Sekunder

Dialami sebelum usia 45 tahun, penyebab trauma (instability) yang menyebabkan luka pada sendi (misalnya patah tulang atau permukaan sendi tidak sejajar), akibat sendi yang longgar dan pembedahan pada sendi. Penyebab lain adalah faktor genetik dan penyakit metabolik.

GEJALA OA

Penyakit ini bisa tanpa gejala (asimptomatik) artinya walaupun menurut hasil X-ray hampir 70 persen manula lebih 70 tahun dideteksi menderita penyakit OA, tetapi hanya setengahnya mengeluh, sedangkan selebihnya normal. Berikut ini tanda tanda serangan OA :

  • Persendian terasa kaku dan nyeri apabila digerakkan .Pada mulanya hanya terjadi pagi hari, tetapi apabila dibiarkan akan bertambah buruk dan menimbulkan rasa sakit setiap melakukan gerakan tertentu , terutama pada waktu menopang berat badan, namun bisa membaik bila diistirahat kan . Pada beberapa penderita , nyeri sendi dapat timbul setelah istirahat lama,misalnya duduk di kursi atau di jok mobil dalam perjalanan jauh. Terkadang juga dirasakan setelah bangun tidur di pagi hari.
  • Adanya pembengkakan/peradangan pada persendian (Heberden’s dan Bouchard’s nodes)
    Persendian yang sakit berwarna kemerah-merahan.
  • Kelelahan yang menyertai rasa sakit pada persendian
  • Kesulitan menggunakan persendian
  • Bunyi pada setiap persendian(crepitus). Gejala ini tidak menimbulkan rasa nyeri, hanya rasa tidak nyaman pada setiap persendian (umumnya lutut)
  • Perubahan bentuk tulang.Ini akibat jaringan tulang rawan yang semakin rusak, tulang mulai berubah bentuk dan meradang , menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.

FAKTOR RESIKO;

  • Usia diatas 50 tahun.
  • wanita
  • Kegemukan
  • Riwayat immobilisasi
  • Riwayat trauma atau radang di persendian sebelumnya.
  • Adanya stress pada sendi yang berkepanjangan,misalnya pada olahragawan.
  • Adanya kristal pada cairan sendi atau tulang .
  • Densitas tulang yang tinggi
  • Neurophaty perifer
  • faktor lainnya : ras, keturunan dan metabolik.

PENCEGAHAN OA

Dengan mengeleminir faktor predisposisi di atas. Sebagai tips, lakukan hal-hal berikut untuk menghindari sedini mungkin anda terserang OA atau membuat OA anda tidak kambuh yaitu dengan;

  • Menjaga berat badan
  • Olah raga yang tidak banyak menggunakan persendian
  • Aktifitas Olah raga sesuai kebutuhan
  • Menghindari perlukaan pada persendian.
  • Minum suplemen sendi
  • Mengkonsumsi makanan sehat
  • Memilih alas kaki yang tepat dan nyaman
  • Lakukan relaksasi dengan berbagai tehnik
  • Hindari gerakan yang meregangkan sendi jari tangan.
  • Jika ada deformitas pada lutut, misalnya kaki berbentuk O, jangan dibiarkan. hal tersebut akan menyebabkan tekanan yang tidak merata pada semua permukaan tulang.

DIAGNOSIS OA

Curigai pada manula dengan gejala OA dan lakukan pemeriksaan Xray foto pada sendi yang dikeluhkan, khusus untuk lutut pemeriksaan dilakukan posisi berdiri dan kedua lutut diperiksa untuk pembanding.

Pada foto xray penderita OA kita bisa jumpai adanya osteofit pada pinggir sendi, penyempitan rongga sendi,peningkatan densitas tulang subkhondral, kista pada tulang subkhondral, cairan sendi. Pada pemeriksaan laboratorium penderita OA normal, tapi diperlukan untuk membedakan dengan penyakit lain.

Pada kasus OA dengan cairan sendi berlebihan diperlukan pemeriksaan analisis cairan sendi untuk membedakan dengan OA yang terinfeksi, karena pada OA analisis cairan sendi jernih, kental, sel darah putih < 2000/mL

PENGOBATAN OSTEOARTHRITIS

  • Edukasi pasien
  • Obat nyeri
  • Excercise, menghilangkan kekakuan dan lingkup sendi lebih luas.
  • Suplemen sendi : Glukosamin dan Chondroitin , masing-masing memiliki fungsi yaitu : Chondroitin sulfat berguna untuk merangang pertumbuhan tulang rawan dan menghambat perusakan tulang rawan.Glukosamin adalah pembentukan proteoglycan, bekerja dengan merangsang pembentukan tulang rawan, serta menghambat perusakan tulang rawan.
  • Pemberian injeksi hyaluronic acid
  • Artroskopi debridement, suatu prosedur tindakan untuk diagnosis dan terapi pada kelainan sendi dengan menggunakan kamera, dengan alat ini dokter melakukan pembersihan dan pencucian sendi, selain itu dokter dapat melihat kelainan pada sendi yang lain dan langsung dapat memeperbaikinya.
  • Penggantian sendi (THR), prosedur ini dilakukan pada kasus stadium lanjut (3dan 4). Setelah operasi pasien dapat berjalan kembali dengan tanpa rasa nyeri.

Sorry, you can not to browse this website.

Because you are using an outdated version of MS Internet Explorer. For a better experience using websites, please upgrade to a modern web browser.

Mozilla Firefox Microsoft Internet Explorer Apple Safari Google Chrome