Osteoporosis Fraktur Vertebra Sebagai Salah satu Faktor Resiko Nyeri Pinggang

June 26, 2009 26 Comments

osteoporosisSeiring dengan kemajuan dibidang kesehatan, serta kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, berakibat semakin tinggi angka harapan hidup manusia indonesia , berdasarkan laporan BPS angka harapan hidup(AHH) manusia indonesia meningkat dari 60 tahun pada tahun 1995, menjadi 68 tahun pada tahun 2005,jumlah manula indonesia menduduki peringkat 4 dunia (19,7 juta).

Osteoporosis sebagai penyakit pada tulang yang ditandai dengan kerapuhan tulang menyebabkan masalah kesehatan yang besar, terutama pada wanita post menopause. Sekitar 40% wanita usia 50-75 tahun akan mengalami fraktur akibat osteoporosis, 35 % nya berhubungan dengan tulang belakang , dengan komplikasi yang paling sering adalah patah tulang vertebra.

Patah tulang vertebra menyebabkan penurunan kualitas hidup pada wanita, karena tinggi badan berkurang,deformitas tulang belakang, nyeri akut dan kronik, mobilisasi terganggu, ketidakmampuan aktifitas tulang belakang.Patah tulang vertebra yang baru berhubungan dengan peningkatan nyeri pinggang secara mendadak, terjadi deformitas tulang belakang akibat perubahan bentuk pergerakan sendi dan otot sering menyebabkan nyeri kronik.kemudian menyebabkan keterbatasan fungsi, depresi dan penurunan aktifitas sosial.

Osteoporosis
Definisi :

  • Old definition : penurunan massa tulang tanpa terjadi penurunan kwalitas tulang (Albright F. Ann Intern Med 1947;27:81)
  • Modern definition : Penyakit tulang dengan ciri penurunan massa tulang dan kerusakan mikroarsitekturnya sehingga menyebabkan tulang mudah patah.(Consensus Development Conference(Am J Med.1991;90:107-110.)
  • Newest definition : Osteoporosis adalah penyakit tulang dimana terjadi penurunan kekuatan tulang sedemikian hingga meningkatkan resiko patah tulang. Kekuatan tulang terdiri dari densitas tulang (kwantitatif) dan kwalitas tulang (NIH Consensus Development Panel . JAMA 2001;285:785-95)

Komposisi tulang terdiri dari matriks tulang 90% kolagen Tipe 1, 10% protein, Mineral tulang (hydroxyapatite, kalsium dan posfat) dansel-sel tulang (osteoklas,oseoblas,osteocyt.lining sel).

Tulang tumbuh sebagai akibat dari modeling :perubahan bentuk dan ukuran tulang selama masa pertumbuhan (anak-anak). Tulang dewasa sehat setiap kali diperbaharui melalui proses remodelling yakni penggantian tulang lama dengan tulang baru.

Siklus remodeling ialah aktifasi, resorpsi dan formasi. Proses ini dikerjakan oleh sel osteoklas (berasal dari sumsum tulang) yang menghancurkan tulang tua (resorpsi) sedangkan osteoblas (berasal dari sel mesenchym) menghasilkan bone matriks baru yang kemudian mengalami mineralisasi (formasi). Kehilangan masa tulang terjadi apabila resorpsi lebih besar dari formasi.

Puncak massa tulang adalah densitas tulang yang maksimal sepanjang hidup kita, hal ini tercapai bila masa pertumbuhan tulang berhenti/stabil baik dalam bentuk ukuran maupun jumlah mineral yang dikandungnya (konsolidasi). Puncak massa tulang dicapai tidak bersamaan : Trokhanter 14,2 + 2 thn, leher femur 18,5 +1.5 thn, tulang belakang 23 +1.4 th ( Li Y-C, et all,Bone.2003;32:546-555.)

Faktor-faktor yang menentukan puncak massa tulang adalah herediter (70-80%), sex dan ras, gaya hidup (20-30%).

Densitas tulang meningkat luar biasa selama masa pubertas, puncaknya dicapai pada usia di atas 10 hingga permulaan 20 tahun, kemudian mendatar , setelah usia 30 th terjadi kehilangan massa tulang dengan kecepatan 0.5%-1% pertahun, kemudian masuk masa menopause turun 1%-2% pertahun berlangsung hingga 5-10 tahun.

Densitas tulang terus menurun karena usia hingga mencapai level seperti sebelum masa pubertas. Umumnya massa tulang pria lebih tinggi daripada wanita dan ras hitam lebih tinggi dari kulit putih

Rangka tubuh kita terdiri dari 2 regio : sentral (spine, iga, panggul, bahu, hip), peripher ( lengan dan tungkai).tulang kortikal membungkus seluruh permukaan tulang dan bagian tengah tulang panjang, sedangkan tulang kanselaus ada di bagian dalam terutama pada tulang sentral .

80% rangka manusia terdiri dari tulang kortikal namun luasnya hanya 20 %. Sekitar 3 % tulang kortikal diperbaharui tiap tahunnya.Sisanya 20% terdiri tulang kanselaus namum memiliki luas 80%, dan terjadi perbaharuan 25% setiap tahun. Berkurangnya tulang kanselaus(Cancellous bone loss) cepat terjadi pada masa menopause, mengakibatkan resiko patah tulang pergelangan tangan, kemudian proses ini berlanjut mengakibatkan resiko patah tulang vertebra.

Pengurangan tulang kortikal berjalan lebih lambat, Meningkatnya resiko patah tulang panggul sebagai akibat pengurangan kedua jenis tulang . Osteoporosis dapat terjadi akibat puncak massa tulang yang rendah dan kehilangan tulang atau keduanya Wanita memiliki puncak massa tulang lebih rendah dari pria, ras kulit putih lebih rendah puncak massa tulangnya dibandingkan kulit hitam.

kehilangan massa tulang terjadi pada usia lanjut karena resorpsi lebih besar dari formasi, jika terjadi pengurangan tulang(bone loss) terjadi pula penurunan kwantitas dan kwalitas tulang. Tidak ada gejala klinis yang timbul akibat rendahnya densitas dan bone loss. Osteoporosis dapat ditegakkan berdasarkan pada adanya riwayat trauma minimal atau fragility fracture( fraktur akibat jatuh pada sikap berdiri atau keadaan dimana dalam keadaan normal tidak akan terjadi

Penyebab osteoporosis

  • Primer, disebabkan karena defisiensi estrogen (tipe1), atau usia lanjut(tipe2)
  • Sekunder, karena berbagai penyakit, kondisi atau konsumsi obat2an tertentu
  • idiopathic (tidak diketahui)

Epidemiologi
Diperkirakan lebih 200 juta orang diseluruh dunia terkena osteoporosis , sepertiganya terjadi pada usia 60-70 th, 2/3nya terjadi pada usia lebih 80 th. Diperkirakan 30% dari wanita di atas usia 50 th mendapat 1 atau lebih patah tulang vertabra.

Diperkirakan 1 dari 5 pria di atas 50 th mendapat patah tulang akibat osteoporosis dalam hidupnya. Angka kematian 5 tahun pertama meningkat sekitar 20 % pada patah tulang nertebra maupun panggul.

Di Amerika pada tahun 1995 pata tulang aibat osteoporosis menduduki peringkat 1 dibanding penyakit lain, jumlah 1,5 juta pertahun dengan patah tulang vertebra terbanyak (750 ribu),hip(250 ribu), wrist(250 ribu), fraktur lain ( 250 ribu),dengan anggaran meningkat sebesar 13,8 miliar dollarpertahun(kebanyakan biaya untuk patah tulang hip sebesar 8,7 miliar dollar.

Bahkan diperkirakan insiden patah tulang hip meningkat bermakna 240% pada wanita dan 320% pada pria. Perkiraan pada tahun 2050 menjadi 6,3 juta terbanyak di asia.

Gejala Klinis Osteoporosis
Osteoporosis dapat terjadi tanpa gejala (silent disease) , kita tidak mengetahui sampai terjadinya patah tulang.Patah tulang yang sering adalah vertebra, hip, wrist, dan tulang lain.

Patah tulang vertebra bisa bentuk wedge, biconcave atau crush. Keluhan bisa nyeri pinggang tiba-tiba atau nyeri pinggang kronik. Kebanyakan terjadi secara spontan atau kegiatan sehari –hari(mengangkat benda ,mendorong, menarik,dll).

Nyeri pinggang adalah keluhan yang paling banyak datang ke dokter dan kadang dirujuk ke rumah sakit untuk di rawat.Umumnya nyeri pinggang datang pada serangan pertama , 10% pasien mengeluh nyeri pinggang lebih 6 minggu, 5% mengeluh nyeri pinggang lebih dari 3 bulan.Hubungan antara osteoporosis fraktur dan nyeri pinggang masih dalam perdebatan.

Tidak ada studi longitudinal pada radiologi yang menerangkan hubungan ini. Symmons DPM dan kawan-kawan melaporkan studi longitudinal pada wanita usia 45-64 tahun yang dibagi dalam 2 grup, grup 1 adalah yang mengeluh nyeri pinggang , grup 2 tidak ada keluhan nyeri pinggang . Didapatkan hasil pada awal degeneratif disc paling banyak pada grup yang nyeri pinggang, sedangkan osteoporosis patah vertebra sama pada kedua grup. 9 tahun kemudian kedua grup menunjukkan peningkatan prevalensi terjadi degeneratif disc dan osteoporosis fraktur vertebra.

Kesimpulan bahwa patah tulang vertebra akibat osteoporosis bukan merupakan penyebab utama terjadinya nyeri pinggang. Gejala lain adalah tinggi badan berkurang, kyphosis, perut membuncit, fungsi paru menurun,kwalitas hidup menurun,kehilangan percaya diri, ketergantungan obat anti nyeri, depresi, tidak dapat hidup mandiri dan angka kematian meningkat.

Hanya 25%-30% patah tulang belakang di diagnosa secara radiologis. Pada studi osteoporis yang luas, sekitar 4% diketahui memiliki fraktur secara klinis dalam 2 tahun, dan 4% radiologis fraktur tapi tidak ada gejala.

Prevalensi patah tulang vertebra secara radiologis
(O’Neil TW, etal. J Bone Miner Res.1996;11:1010-1018) :

  • Pada usia 50-60 th 5%-10% lebih banyak pria daripada wanita.Hal ini disebabkan karena akumulasi trauma lebih sering pada pria.
  • Sesudah usia 65 th,20%-25% lebih sering pada wanita dari pria.
  • Insiden radiologis fraktur vertebra meningkat, usia mulai 50 tahun 2-5 per 1000 pasien pertahun, pada usia 50-54 tahun hingga 15-25 pe 1000 pada usia 75-79 tahun.

Klasifikasi Osteoporosis Postmenopausal (WHO 1994)
Assesment resiko fraktur dan screening (WHO Technical report series no 843;WHO, Geneva and Kanis JA et al. J Bone Miner Res. 1994:1137-1141.)

  • T-score membandingkan BMD seseorang dengan nilai rata-rata dewasa muda dan dinyatakan dalam standard deviasi
  • Normal, T-score lebih 1.0
  • Low bone mass (osteopenia(low bone density), antara -1.0 sampai -2,5
  • Osteoporosis, lebih kecil -2,5

Diagnosis Fraktur Vertebra
Ditegakkan dengan pemeriksaan xray foto lateral view, lalu di ukur tinggi corpus vertebra bagian depan dan belakang dan dibandingkan rationya, dikatakan fraktur bila terjadi pengurangan tinggi lebih sama dengan 20 %, atau lebih atau sama dengan 4 mm atau rasio lebih kecil sama dengan 0.8.

Kadang sebagian fraktur vertebra sulit tervisualisasi dengan foto xray, karena anatomi tulang yang komplek seperti pada stress fraktur tulang sakral, depresi bagian tengah endplate. Untuk itu dibutuhkan pemeriksaan lain (bone scanning, MRI). Tidak ada klassifikasi khusus untuk fraktur vertebra akibat osteoporosis Ada 3 jenis fraktur vertebra ; kompressi, biconcave, crush.

Pasien dengan patah tulang vertebra pertama kali beresiko 6,1 kali terjadi patah kembali. Pasien dengan patah tulang vertebra lebih dari satu level resiko terjadi patah kembali selama 1 tahun 24,1 % -44%. Pada laporan C Roux dkk, (C Roux et al.Ann Rheum Dis 2007;66:81-85) dilakukan pemeriksaan pada wanita post menopause yang didiagnosis osteoporosis (klasifikasi WHO) dengan keluhan back pain oleh rheumatologis di dapat hasil 410 pasien yang diperiksa, 215(52,4 %) didiagnosis minimal satu fraktur vertebra. 38,1% patah 1 vertebra, 27% patah 2 vertebra dan 14% patah 3 vertebra.

Lokasi patahnya yang satu vertebra paling sering L1 dan L2 sebanyak 18(22%) dan 12 pasien (14%) pada level Th12. Dibandingkan dengan kelompok yang tidak fraktur, kelompok yang fraktur vertebra didapatkan 3.1 tahun lebih tua, 1,9 cm lebih pendek dengan rata-rata berkurang tinggi badan 6,1 cm lebih besar dari pasien tanpa fraktur 3,8 cm.

Hasil lain didapat pada fraktur vertebra nyeri pinggang lebih sering dengan durasi lebih pendek lebih sering terjadi tiba-tiba dan nyeri menetap pada malam hari dan nyeri lebih hebat bila melakukan fleksi pada tulang belakang.Francis RM dkk melaporkan dari 1042 pasien dengan nyeri pinggang tidak respon dengan pengobatan konservatif dilakukan pemeriksaan MRI didapat 82 patah tulang vertebra osteoporosisterdiri 51 kasus baru dan 31 kasus lama .

Penatalaksanaan Fraktur Vertebra Osteoporosis
Management nyeri dengan memberikan obat-obatan (anagetik parasetamol, NSAID,COX-2 non-opioid,amitriptilin), terapi fisik, exercise, spinal orthosis, edukasi,mengurangi stress, meningkatkan kemampuan untuk ADL.selain itu tetap diberikan obat2an untuk mengatasi osteoporosisnya yaitu asupan cukup kalsium dan vit D3, serta pemberian HRT, SERM, bifosfonat , calcitonin,teriparatide.

Pada penelitian Liritis dkk melaporkan bahwa calcitonin 100-200 IU secara signifikan mengurangi nyeri memperbaiki mobilisasi dini pada pasien yang dirawat dengan fraktur vertebra (crush). Pengurangan nyeri berefek pada minggu pertama sampai 4 minggu kemudian. Bisphosphonate (Ibandronate) telah digunakan utuk mengobati nyeri tulang disertai patah tulang vertebra akut.

Ibandronate menurunkan resiko terjadinya patah tulang vertebra 62%, . Penggunaan ibandronate satu kali sebulan lebih efektif menurunkan resiko patah tulang pada tulang vertebra dibandingkan dengan penggunaan satu minggu sekali, tapi relatif sama pada kasus patah lainnya.Metode lain yaitu dengan cara vertebroplasty atau kyphoplasty, Tehnik ini adalah memasukkan semen (PMMA), dengan cara disuntikkan ke vertebra yang patah karena osteoporosis atau bisa juga karena tumor.

Kyphoplasty prosedurnya hampir sama , bedanya saat trokar disuntikkan ke tulang vertebra berisi balon kemudian ballonnya di besarkan untuk membuat space dalam tulang vertebra, kemudian diisi semen dengan tekanan rendah.

Kedua prosedur ini dilakukan secara lokal atau Anestesi umum. Selama prosedur ini berlangsung semua dibantu dengan C-Arm.Keuntungan kedua prosedur di atas untuk mengurangi nyeri secara cepat, sehingga memperbaiki mobilitas pasien, pasien dapat berdiri dan berjalan 24 jam pertama.

Kontra indikasi dilakukan pada pasien dengan gangguan pembekuan darah atau infeksi.Komplikasinya perdarahan pada tempat injeksi, patah pedikel,cedera pada dura, patah jarum. Komplikasi akibat injeksi semen adalah leakage lokal, emboli paru, sement keluar tulang. Semen leakage lebih sedikit pada kyphoplasty banding vertebroplasty karena tekanan semen rendah.

Daftar Pustaka

  • Tesar Rogene et all. ISCD Bone Denssitometry Course. The International Society for Bone Densitometry.2008.
  • Jensen AL,Harder Ingegerd.The Osteoporotic Pain experience;Osteoporos Int(2004) 15: 204-208.
  • Francis et all.Back Pain in Osteoporotic vertebral fractures;Osteoporos Int(2008) 19:895-903.
  • Symmons DP et all. A longitudinal study of back pain and radiological changes in the lumbar spines of middle aged women.II.Radiographic findings; Ann Rheum Dis (1991) 50 :162-166.
  • Roux C et all. A Clinical tool to determine the necessity of spine radiography in postmenopausal women with osteoporosis presenting with back pain: Ann Rheum Dis (2007) 66: 81-85.
  • Ambrose TL et all.The influence of Back Pain on Balance and Functional Mobility in 65 to 75-years-old women with osteoporosis; Osteoporos Int(2002) 13:868-873.
  • Haczynski Josef, Jakimiuk Artur. Vertebral fractures: ahidden problem of osteoporosis
  • Old JR, Calvert M. Vertebral compression Fractures in eldery:Dowload from the American Family Physician Web Site at www.aafp.org/afp. Copyright 2004.

OSTEOARTRITIS

May 26, 2009 645 Comments

lututOSTEOARTHRITIS Adalah salah satu jenis dari keluarga besar penyakit arthritis yang paling sering terjadi. Sering disebut juga degeneratif osteoarthritis atau hipertropic OA. OA merupakan radang sendi yang bersifat kronis dan progresif disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa integrasi (pecah) dan perlunakan progresif permukaan sendi dengan pertumbuhan tulang rawan sendi ( osteofit) di tepi tulang.

Literatur menunjukkan 1 dari 6 populasi menderita penyakit OA ini. WHO melaporkan 40 persen penduduk dunia yang lansia akan menderita OA lutut, dari jumlah tersebut, 80 persen mengalami keterbatasan gerak sendi

Patofisiologi Kartilago hyaline (jaringan rawan sendi)

Adalah jaringan elastis yang 95 persen terdiri dari air dan matrik ekstra selular, 5 persen sel kondrosit. Fungsinya sebagai penyangga atau shock breaker, juga sebagai pelumas, sehingga tidak menimbulkan nyeri pada saat pergerakan sendi.

Apabila kerusakan jaringan rawan sendi lebih cepat dari kemampuannya untuk memperbaiki diri, maka terjadi penipisan dan kehilangan pelumas sehingga kedua tulang akan bersentuhan. Inilah yang menyebabkan rasa nyeri pada sendi lutut.

Setelah terjadi kerusakan tulang rawan, sendi dan tulang ikut berubah. Pada permukaan sendi yang sudah aus terjadilah pengapuran. Yaitu tumbuhnya tulang baru yang merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menjadikan sendi kembali stabil, tapi hal ini justru membuat sendi kaku.

Sendi yang sering menjadi sasaran penyakit ini adalah sendi yang sering digunakan sebagai penopang tubuh seperti lutut, tulang belakang, panggul, dan juga pada sendi tangan/kaki. Jika tidak diobati sakit akan bertambah dan tidak bisa berjalan. Selain itu, tulang bisa mengalami perubahan bentuk atau deformity bersifat permanen. Bengkok pada kaki bisa ke dalam maupun keluar. Dampak kelainan ini muncul perlahan 10 tahun kemudian untuk itu perlu waspada.

JENIS-JENIS OA

1. Primer

Penyebab tak diketahui, akibat proses penuaan alami. Dialami setelah usia 45 tahun, tidak diketahui penyebab secara pasti, menyerang perlahan tapi pasti, dan dapat mengenai banyak sendi. Biasanya mengenai sendi lutut dan panggul, bisa juga sendi lain seperti punggung dan jari-jari.

2. Sekunder

Dialami sebelum usia 45 tahun, penyebab trauma (instability) yang menyebabkan luka pada sendi (misalnya patah tulang atau permukaan sendi tidak sejajar), akibat sendi yang longgar dan pembedahan pada sendi. Penyebab lain adalah faktor genetik dan penyakit metabolik.

GEJALA OA

Penyakit ini bisa tanpa gejala (asimptomatik) artinya walaupun menurut hasil X-ray hampir 70 persen manula lebih 70 tahun dideteksi menderita penyakit OA, tetapi hanya setengahnya mengeluh, sedangkan selebihnya normal. Berikut ini tanda tanda serangan OA :

  • Persendian terasa kaku dan nyeri apabila digerakkan .Pada mulanya hanya terjadi pagi hari, tetapi apabila dibiarkan akan bertambah buruk dan menimbulkan rasa sakit setiap melakukan gerakan tertentu , terutama pada waktu menopang berat badan, namun bisa membaik bila diistirahat kan . Pada beberapa penderita , nyeri sendi dapat timbul setelah istirahat lama,misalnya duduk di kursi atau di jok mobil dalam perjalanan jauh. Terkadang juga dirasakan setelah bangun tidur di pagi hari.
  • Adanya pembengkakan/peradangan pada persendian (Heberden’s dan Bouchard’s nodes)
    Persendian yang sakit berwarna kemerah-merahan.
  • Kelelahan yang menyertai rasa sakit pada persendian
  • Kesulitan menggunakan persendian
  • Bunyi pada setiap persendian(crepitus). Gejala ini tidak menimbulkan rasa nyeri, hanya rasa tidak nyaman pada setiap persendian (umumnya lutut)
  • Perubahan bentuk tulang.Ini akibat jaringan tulang rawan yang semakin rusak, tulang mulai berubah bentuk dan meradang , menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.

FAKTOR RESIKO;

  • Usia diatas 50 tahun.
  • wanita
  • Kegemukan
  • Riwayat immobilisasi
  • Riwayat trauma atau radang di persendian sebelumnya.
  • Adanya stress pada sendi yang berkepanjangan,misalnya pada olahragawan.
  • Adanya kristal pada cairan sendi atau tulang .
  • Densitas tulang yang tinggi
  • Neurophaty perifer
  • faktor lainnya : ras, keturunan dan metabolik.

PENCEGAHAN OA

Dengan mengeleminir faktor predisposisi di atas. Sebagai tips, lakukan hal-hal berikut untuk menghindari sedini mungkin anda terserang OA atau membuat OA anda tidak kambuh yaitu dengan;

  • Menjaga berat badan
  • Olah raga yang tidak banyak menggunakan persendian
  • Aktifitas Olah raga sesuai kebutuhan
  • Menghindari perlukaan pada persendian.
  • Minum suplemen sendi
  • Mengkonsumsi makanan sehat
  • Memilih alas kaki yang tepat dan nyaman
  • Lakukan relaksasi dengan berbagai tehnik
  • Hindari gerakan yang meregangkan sendi jari tangan.
  • Jika ada deformitas pada lutut, misalnya kaki berbentuk O, jangan dibiarkan. hal tersebut akan menyebabkan tekanan yang tidak merata pada semua permukaan tulang.

DIAGNOSIS OA

Curigai pada manula dengan gejala OA dan lakukan pemeriksaan Xray foto pada sendi yang dikeluhkan, khusus untuk lutut pemeriksaan dilakukan posisi berdiri dan kedua lutut diperiksa untuk pembanding.

Pada foto xray penderita OA kita bisa jumpai adanya osteofit pada pinggir sendi, penyempitan rongga sendi,peningkatan densitas tulang subkhondral, kista pada tulang subkhondral, cairan sendi. Pada pemeriksaan laboratorium penderita OA normal, tapi diperlukan untuk membedakan dengan penyakit lain.

Pada kasus OA dengan cairan sendi berlebihan diperlukan pemeriksaan analisis cairan sendi untuk membedakan dengan OA yang terinfeksi, karena pada OA analisis cairan sendi jernih, kental, sel darah putih < 2000/mL

PENGOBATAN OSTEOARTHRITIS

  • Edukasi pasien
  • Obat nyeri
  • Excercise, menghilangkan kekakuan dan lingkup sendi lebih luas.
  • Suplemen sendi : Glukosamin dan Chondroitin , masing-masing memiliki fungsi yaitu : Chondroitin sulfat berguna untuk merangang pertumbuhan tulang rawan dan menghambat perusakan tulang rawan.Glukosamin adalah pembentukan proteoglycan, bekerja dengan merangsang pembentukan tulang rawan, serta menghambat perusakan tulang rawan.
  • Pemberian injeksi hyaluronic acid
  • Artroskopi debridement, suatu prosedur tindakan untuk diagnosis dan terapi pada kelainan sendi dengan menggunakan kamera, dengan alat ini dokter melakukan pembersihan dan pencucian sendi, selain itu dokter dapat melihat kelainan pada sendi yang lain dan langsung dapat memeperbaikinya.
  • Penggantian sendi (THR), prosedur ini dilakukan pada kasus stadium lanjut (3dan 4). Setelah operasi pasien dapat berjalan kembali dengan tanpa rasa nyeri.

Operasi Minimal Invasif / Microendoskopic Disektomi (MED)

May 26, 2009 272 Comments
bedah-dengan-risiko-paling-minimal

operasi minimal invasif

Adalah tindakan bedah pada kelainan penekanan saraf tulang belakang dengan menggunakan kamera dengan sayatan minimal kira2 1-1,5 cm.

Tehnik Minimally Invasive Spine Surgery/ Operasi Minimal Invasif /Microendoskopic-Disektomi (MED) dimulai sejak tahun 1995, dan sudah berkembang  pesat, saat ini di pasaran banyak metode tehnik utk MED, salah satunya adalah ENDOSPINE system yang diciptakan oleh Dr Destandeau dari Perancis. Kelebihan tehnik MED dengan ENDOSPINE sangat menguntungkan buat pasien seperti;

  1. Sayatan kecil,
  2. Kosmetik lebih baik,
  3. One day care,
  4. Aktif bekerja kembali lebih cepat,
  5. Tak perlu alat bantu,
  6. Perdarahan operasi minimal,
  7. Aman

med1

Persiapan untuk pelaksanaan operasi sama seperti operasi lainnya;

  • Lama operasi 1 jam,
  • Jenis pembiusan dengan general atau spinal.

Tehnik ini bisa untuk kelainan HNP dan Spinal stenosis lumbal. Tehnik ini tidak memasukkan alat atau implant pada tulang belakang

Arthroscopy Bahu Nyaman untuk Pasien

May 26, 2009 131 Comments

shoulder-arthroscopy1

Arthroscopy bahu adalah suatu prosedur tindakan operasi pada bahu dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan monitor.

Seperti tindakan endoskopi lainnya, kelebihan tehnik ini adalah;

  • Sayatan minimal,
  • Aman,
  • Nyaman utk pasien serta
  • Perawatan 1 hari.

Penggunaan tehnik ini untuk kelainan-kelainan:

  • Cedera olah raga,
  • Kaku sendi (Frozen shoulder) yg gagal dgn cara konservatif,
  • Dislokasi bahu yang baru (fresh) atau lama (neglected) atau
  • Bahu yg sering keluar masuk(habitual dislokasi bahu),
  • Diagnostik kelainan sendi bahu,
  • Robekan otot atap bahu (rotator cuff tear),
  • Lesi Bankart,
  • Lesi SLAP,
  • Pengapuran sendi bahu,
  • Pecahan tulang lepas,
  • Impigment syndrom.

Prosedur yang dilakukan bila penderita akan dilakukan artroskopi bahu adalah sbb:

  1. Pre op evaluasi (cek darah, konsul2 sesuai kebutuhan)
  2. Pembiusan secara general
  3. Posisi saat tindakan penderita duduk, atau miring ke sisi yg sehat
  4. Perawatan 1 hari saja.
  5. Tangan pada sisi bahu yg dioperasi pakai gendongan
  6. Luka operasi 2 buah, 1 di depan dan belakang besar 4 mm (sayatan kecil)

Khusus pada kasus orang tua dengan keluhan bahu seperti :

  • Pengapuran sendi bahu,
  • Kekakuan sendi serta impigment sindrom oleh pengapuran AC Joint atau Ligamentum Coracoacromiale hasilnya cukup memuaskan.

Biaya operasi relatif tergantung rumah sakit ,pada RS jakarta sekitar 13juta – 15 juta rupiah (untuk kelas 3).

Pengobatan Patah Tulang Mahal ?

May 21, 2009 815 Comments

patah-tulang-1Kenapa harus ke dukun patah Tulang ? kalau ternyata biaya, waktu, dan risiko infeksi dan AMPUTASI menghadapi di muka. Ada 3 alasan orang pergi ke dukun patah tulang ; ekonomi katanya lebih murah, pegaruh lingkungan , takut operasi. Mari kita bahas disini .

Masalah ekonomi, kalau dihitung total biaya yg dikeluarkan ternyata biaya ke dukun dan ke dokter tulang tidak jauh beda, contoh kasus seorang manager yg bekerja di UNILEVER pada saat itu kalau dia tidak mengikuti kakaknya yg nganjurkan ke dukun mungkin dia saat ini masih bekerja , tdk keluar biaya sepeserpun utk berobat, dan tdk cacat .Dari hasil wawancara saya di dptkan keterangan , dia di rawat inap oleh dukun selama satu setengah bulan dgn biaya pondok seratus ribu per hari, ada biaya utk minyak urut krn tiap hari di urut.

Uang utk minyak 160.000 rph /minggu. Ada lagi biaya urut utk pegal2 badan 30.000/urut, dan si dukun juga memberi obat ramuan yg hrs diminum setiap minggu seharga 200.000 rp.setelah dirawat mondok penderita dibolehkan pulang , setelah itu ada kunjungan rmh 2 x seminggu dengan biaya sekali kunjungan 100.000 rph diluar obat dan minyak urutnya.

Si manager ini tlh mengalami pengobatan oleh dukun selama 8 bulan, jadi total biaya yg dikeluarkan 4,5 jt utk mondok + 1,4 jt utk obat +960.000 rph minyak urut+ 4 jt kunjungan rmh + 4 jt obat utk selama 5 bln = 14,860.000 rph. Jadi pada kasus ini tdk benar bila dikatakan berobat ke dukun patah lebih murah dari pada ke dokter tulang, sang manager di PHK karena di beri waktu 6 bulan tetap tdk bisa bekerja, dan kondisi tulang setelah di periksa oleh dokter dan di foto rontgen tetap tdk menyambung.

Dari kasus di atas kita belajar betapa mahalnya biaya dan risiko yg harus diterima sang manager . Kasus patah tulang yg datang ke dokter tdk selalu harus di operasi kadang2 hanya perlu pakai gips atau bahkan cuma pakai bandage saja tergantung jenis patahnya, usia penderita, ada luka atau tdk ada luka. Ada rumor yg salah menyatakan kalau ke dokter pasti di operasi. Metode pengobatan patah tulang tanpa operasi juga kita lakukan , malah Prof Sarmiento telah meneliti selama 17 thn.

Memang ada beda antara yg di operasi atau dengan cara tanpa operasi. Biaya pun tdk mahal. Tips bagaimana mendapatkan pelayanan yg murah sebenarnya tdk sulit, anda pertama hrs tahu bahwa rumah sakit seperti anda memilih hotel harga hotel bintang lima akan beda dgn harga hotel bintang 3, semua berpengaruh juga terhadap jasa dr , obat dan lainnya.

Masalah terakhir adalah TAKUT dioperasi, rumor di masyarakat kalau di operasi tulang pasti di potong atau kalau di bius nanti tdk bangun lagi itu tdk benar krn saat ini obat2 bius aman, dan malah ada tehnik pembiusan yg membuat orang tetap sadar saat operasi, malah saat ini berkembang tehnik2 operasi yg sayatan operasinya kecil yg kita sebut MIS (Minimally Invasif Surgery).

Page 2 of 2«12

Sorry, you can not to browse this website.

Because you are using an outdated version of MS Internet Explorer. For a better experience using websites, please upgrade to a modern web browser.

Mozilla Firefox Microsoft Internet Explorer Apple Safari Google Chrome